Blog
Bisnis Makin Besar, Kenapa Semua Keputusan Masih Harus Lewat Owner?
Bisnis Makin Besar, Kenapa Semua Keputusan Masih Harus Lewat Owner? Ketika bisnis masih dalam tahap awal, keterlibatan owner dalam hampir setiap keputusan memang sulit dihindari. Owner biasanya mengetahui kondisi keuangan, pelanggan, supplier, operasional, hingga orang-orang yang bekerja di dalam perusahaan. Karena itu, keputusan sering kali langsung berpusat kepada owner.
Namun, ketika bisnis semakin besar, pola tersebut perlu mulai dievaluasi. Bukan karena owner harus berhenti terlibat, tetapi karena semakin besar bisnis, semakin banyak keputusan yang harus dibuat. Jika semuanya masih menunggu satu orang, pertumbuhan justru dapat membuat proses menjadi semakin lambat.
Di sinilah MAB Advisory melihat pentingnya membangun sistem pengambilan keputusan, accountability, dan governance yang dapat mengikuti pertumbuhan bisnis. Bagi pemilik bisnis yang mulai menghadapi kondisi tersebut, MAB Advisory dapat membantu melihat bagaimana struktur, proses, keuangan, risiko, dan kebutuhan bisnis dapat berjalan lebih terarah. Untuk berdiskusi mengenai kondisi bisnis Anda, hubungi MAB Advisory di 087794192444.
Ketika Owner Menjadi Pusat dari Semua Keputusan
Coba perhatikan bagaimana keputusan dibuat di perusahaan Anda. Apakah pembelian tertentu harus menunggu owner? Apakah pembayaran masih harus mendapat persetujuan langsung? Apakah manager belum berani mengambil keputusan sebelum bertanya kepada owner? Atau bahkan ketika owner sedang tidak berada di kantor, beberapa pekerjaan ikut tertunda?
Jika jawabannya sering kali “ya”, persoalannya mungkin bukan sekadar kurangnya kepercayaan kepada tim.
Bisa jadi perusahaan belum memiliki decision architecture yang jelas. Dalam bisnis yang semakin besar, tidak semua keputusan memiliki tingkat kepentingan yang sama. Keputusan strategis tentu membutuhkan keterlibatan owner atau manajemen puncak. Namun, keputusan operasional yang sudah memiliki aturan dan batas kewenangan seharusnya dapat diselesaikan oleh pihak yang bertanggung jawab.
Dengan begitu, owner tetap memegang kendali tanpa harus menjadi pusat dari setiap keputusan.
Pertumbuhan Bisnis Harus Diikuti Accountability
Memberikan kewenangan kepada tim bukan berarti melepas kontrol. Justru, kewenangan perlu berjalan bersama accountability. Ketika seseorang diberi tanggung jawab untuk mengambil keputusan, harus jelas pula apa yang menjadi tanggung jawabnya, batas kewenangannya, informasi apa yang digunakan, dan kepada siapa keputusan tersebut dipertanggungjawabkan.
Misalnya, perusahaan dapat mulai memperjelas:
- Sapa yang memiliki kewenangan atas keputusan tertentu
- Batas nilai transaksi yang dapat disetujui
- Keputusan apa yang harus dinaikkan kepada owner
- Informasi apa yang wajib dilaporkan kepada manajemen
- Bagaimana hasil keputusan dievaluasi
Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi menjadi penting ketika jumlah transaksi, karyawan, pelanggan, dan aktivitas bisnis semakin banyak.
Masalahnya Bukan Tentang Owner Terlalu Terlibat
Sering kali pembahasan tentang ketergantungan kepada owner berhenti pada kalimat bahwa owner harus “mendelegasikan pekerjaan”. Padahal persoalannya bisa lebih dalam. Jika owner masih menjadi pusat dari banyak keputusan, perlu dilihat mengapa hal tersebut terjadi.
- Apakah struktur tanggung jawab belum jelas?
- Apakah informasi yang dibutuhkan manajemen belum tersedia dengan baik?
- Apakah prosedur kerja belum cukup kuat?
- Apakah owner belum mendapatkan laporan yang membuatnya yakin bahwa keputusan dapat didelegasikan?
- Atau justru perusahaan berkembang lebih cepat daripada sistem dan governance yang dimilikinya?
Karena itu, solusi tidak selalu berupa menambah orang atau meminta owner lebih banyak memberikan kepercayaan. Perusahaan perlu melihat hubungan antara people, process, data, control, dan governance. Inilah yang membuat pembahasan mengenai pertumbuhan bisnis tidak cukup hanya dilihat dari revenue.
Revenue Bertambah, Tetapi Apakah Bisnis Semakin Scalable?
Bisnis yang semakin besar belum tentu berarti bisnis sudah semakin scalable. Ketika revenue meningkat, perusahaan juga dapat menghadapi cash yang semakin tertekan, approval yang semakin menumpuk, compliance yang semakin kompleks, dan risiko yang semakin besar.
Artinya, pertumbuhan tidak hanya membawa lebih banyak peluang. Pertumbuhan juga membawa lebih banyak kompleksitas. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:
“Seberapa besar bisnis kita sekarang?”
Tetapi juga:
“Apakah sistem dan organisasi kita siap ketika bisnis menjadi dua kali lebih besar?”
Menurut perspektif yang kami bangun di MAB Group, scalable business membutuhkan proses yang dapat dijalankan secara konsisten, data yang reliable, control yang kuat, people yang memiliki tanggung jawab jelas, serta governance dan decision architecture yang tidak membuat seluruh aktivitas bergantung kepada owner.
Kapan Owner Perlu Mulai Mengevaluasi Sistemnya?
Tidak ada satu ukuran bisnis yang secara otomatis menentukan kapan perusahaan harus memperkuat governance atau membangun struktur pengambilan keputusan. Namun, beberapa kondisi dapat menjadi sinyal.
Misalnya, owner semakin sibuk menyelesaikan masalah operasional daripada memikirkan arah bisnis. Manager memiliki tanggung jawab tetapi kewenangannya terbatas. Keputusan menumpuk pada satu atau dua orang. Informasi keuangan tersedia, tetapi belum cukup membantu manajemen mengambil keputusan. Atau proses perusahaan mulai terasa lebih kompleks setiap kali bisnis bertumbuh.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu melihat bisnis secara lebih menyeluruh.
Finance, tax, accounting, governance, risk, dan proses bisnis tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Perspektif yang berbeda perlu digunakan bersama untuk memahami satu business problem secara lebih utuh. Pendekatan inilah yang menjadi bagian dari positioning MAB Group: bukan sekadar memiliki banyak layanan, tetapi menghubungkan berbagai expertise untuk membantu melihat masalah bisnis dari berbagai professional perspectives.
MAB Advisory: Melihat Bisnis Lebih dari Sekadar Angka
MAB Advisory hadir dengan kapabilitas pada finance, tax, governance, business advisory, risk, dan strategic corporate support. Perannya bukan hanya memberikan rekomendasi, tetapi membantu manajemen melihat bagaimana berbagai aspek tersebut saling berhubungan dalam menghadapi persoalan bisnis.
Bagi owner yang bisnisnya sedang berkembang, pembahasannya dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: Apakah bisnis sudah memiliki sistem yang mampu mengikuti pertumbuhannya?
Dari sana, perusahaan dapat melihat kembali bagaimana keputusan dibuat, siapa yang bertanggung jawab, bagaimana informasi digunakan, bagaimana kontrol dijalankan, dan kapan owner perlu terlibat.
MAB Consulting & MAB Advisory saat ini memiliki beberapa kantor yang siap melayani Anda di Surabaya dan Jakarta. Berikut alamat kantor kami:
Mitra Advisory Bersama – 0877 9419 2444
* Office 1: Jl. Taman Cokroaminoto no 4 RT / RW 001 / 008, Kelurahan Dr. Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Kota Surabaya 60264.
* Office 2: Regus – Pakuwon Center, Jl. Embong Malang no 1 – 5, lantai 23, Tegalsari, Kota Surabaya.
* Office 3: Perumahan Citraland Quenstown Blok Q1 No. 56, Sambikerep, Surabaya 60216.
* Office 4 : Gedung Japfa Indoland Tower 1, lt. 4 R. 410 Jl. Basuki Rachmat No. 129 – 137 Surabaya
*NEW ! Representative Office Jakarta :
MAB Advisory siap menjadi partner untuk mendiskusikan kebutuhan finance, governance, risk, dan strategic business Anda. Hubungi 087794192444 untuk memulai percakapan.